Matahari akan bersinar penuh, setengah hari. Lalu akan turun hujan lebat. Kejadian ini seperti hidup matinya listrik tiap hari selama berhari-hari. Semakin lama aku akan terbiasa dengan itu.

“Cappucino hangat satu,” pintaku.

“Di sini cuma jual Cappucino cincau saja,” pemilik warung tetap duduk.

Aku hanya meringis. Bagaimana orang bisa minum kopi dingin disaat hujan seperti ini. Setidaknya warung tenda ini bisa menjadi tempat berteduh hingga hujan reda.

Penjaga warung bangkit dan melakukan sesuatu. Kemudian segelas cappucino hangat terhidang di depanku.

‘Ambil’, isyarat alis matanya. Aku tersenyum berterima kasih. Penjaga warung kembali duduk di kursi plastik satu lagi dan berdehem.

“Saya tidak punya air panas, itulah sebabnya.” Ia merebus es batu di atas panggangan burger dalam gelas besinya.

Aku tertawa memuji kreativitasnya.

“Nah, bagus kamu tertawa. Kamu itu punya kekuatan yang membuat orang lain bisa merasakan perasaanmu. Pasti berat sekali,” tiba-tiba suaranya berubah simpatik.

Ayah, membuatku teringat pada ayah. Tempat mengadu sekaligus mencari solusi paling jitu.

Ayah…, seandainya engkau ada. Semua akan ringan saat ini juga.

“Terima kasih, Pak.”

Hujan menyisakan tempias pada tiap permukaan keras. Namun aku masih enggan pulang.

“Boleh saya duduk disini sebentar lagi?”

Pemilik warung mengangguk. Tidak berkata lagi.

Aku berharap hujan kembali menderas dan turun lebih lama lagi.

Bdl, 120117

Advertisements