“Sejak kapan kamu berhenti jadi orang bijak?”

“Kata-kata bijak itu hanya untuk orang lemah. Segera setelah efeknya habis mereka akan segera mencari dosis kata-kata yang lebih bijak lagi.”

“Apa yang membuatmu menjadi sesinis ini, Lin?” Dio mengepalkan tangan di samping tubuhnya.

“Aku tidak pernah bilang bahwa aku orang bijak. Mengertilah, ada hal-hal lain yang perlu untuk kupelajari. Dan kadang untuk memahami sesuatu kita harus melepaskan sementara pemikiran yang menjadi anti darinya.”

“Lalu apa yang ingin kamu buktikan? Perubahan adalah satu-satunya hal yang tetap di dunia ini?” tinjunya menghantam pohon Akasia di dekat kami. Aku mengeluarkan tawa tapi rasanya pahit sekali.

“Jika benar kamu mengenalku …, tidak. Bahkan aku sendiri belum benar-benar kenal. Tidak ada manusia yang berubah. Mereka hanya bertambah. Tunggu …, plis jangan potong kata-kataku. Sudah lama aku berjalan dengan arah yang sama tapi tidak menemukan jawab. Saatnya mengubah arah dan keputusan ini sudah bulat. Aku berhak atas hidupku. Walau untuk itu harus membuat orang lain terluka. Jangan bersikap egois dengan menyimpan aku hanya untuk dirimu sendiri, Dio. Sabtu siang aku berangkat.”

Tak perlu menunggu hening begitu lama, karena akan butuh bertahun-tahun untuk memecahkannya lagi.

Kutinggalkan Dio masih mematung di bawah pohon Akasia. Hatiku menjerit kenapa untuk menjafi realistis saja harus sesakit ini. Tapi aku mau mencoba. Jika ternyata aku keliru maka aku akan kembali. Setidaknya hidup berputar tidak hanya di sini.

Nana, 15-12-16 Bdl

Advertisements