“Sini, dibalur pake minyak kayu putih.”

Sebenarnya aku lebih suka minyak telon.

“Terus minum teh hangatnya. Pelan-pelan.”

Lebih suka cappucino.

“Kamu masuk angin. Kalo nggak cepat ditangani bisa jadi flu beneran, lho!” kuturunkan lagi kaus berlengan panjang bergambar burung hantu.

“Kenapa, sih, Mama gak mau tinggal di rumahku?”

Untuk kesekian kalinya pertanyaan ini kusampaikan pada ibu tercinta. Selalu dijawab senyuman.

“Supaya bisa melerai pertengkaranmu dengan Adi tiap minggu?” Mama berkedip menggoda.

“Ah, Mama…. Bukannya lebih baik kalau Mama tinggal di tempat yang ramai dengan keluarga? Kalau kangen tinggal peluk.”

Mama mendesah sebentar.

“Karena ini adalah rumah Mama. Sedangkan rumah itu rumahmu. Mama harus ada di rumah agar ketika anak-anaknya pulang mereka bisa merasa tenang.

“Begitupun denganmu. Suatu hari rumahmu akan menjadi tempat anak-anakmu pulang. Jadi jangan terlalu sering pulang kesini. Adi sudah sangat baik. Mama yakin dia tidak keberatan kamu kesini tiap minggu bahkan tiap hari. Tapi dia pasti kangen.

“Dengarkan Mama. Sudah saatnya bagimu melepaskan status sebagai anak. Kamu sekarang ‘Mama’ juga. Walaupun sampai akhir waktu kamu tetap anak Mama dan Mama tetap ibumu.”

Mataku mulai meleleh. Aku tahu Mama benar. Semuanya benar. Bahkan Mama tahu aku hanya pura-pura bertengkar dengan Bang Adi demi mendapat alasan untuk menjenguk wanita yang menaungi hidupku selama ini.

Aku segera beranjak dari kasur.

“Eh…, mau kemana?”

“Kebelet pipis, Ma.”

“Nah, gitu. Makanya teh manis, biar angetnya cepat turun.”

Aku segera berlari ke belakang. Entah itu minyak kayu putih, teh hangat, atau sekadar usapan lembut tangan tuanya. Jika itu cap ‘Mama’ pasti akan terasa nyaman.

Aku cukup belajar dari rumah cap ‘Mama’. Saatnya untuk membuat brand sendiri. Cap ‘Mama Ina’ untuk anak-anak dan suamiku tersayang.

Hasna Wilda
Bdl, 130117

Advertisements