“Jelas!”

“Jelas apanya?” tanya Rosi kikuk.

“Jelas ini bau kaki! Busuk!”

Rosi merapatkan diri dengan teman-temannya yang lain. Ah, kemana Nanu? Lama sekali dia pergi. Padahal tak ada yang dapat menghentikan ceracau Yosi saat dia sedang sakau. Kecuali itu.

“He…hei,” Nanu terlihat dari balik tikungan dengan napas tersengal.

“Mana…mana? Cepat!”

Segera mereka membuka mulut Yosi dan menaburkan bubuk putih ke dalamnya. Mata Yosi mengerjap beberapa kali. Mulutnya mengulum. Tak lama kemudian dia tidur.

“Fiuhh… Inilah akibat jika anak-anak tidak disapih dengan baik sejak kecil.” Violet menyeka keringat di dahinya.

Tepuk tangan membahana. Yosi bangkit bergabung dalam barisan memanjang yang membungkuk hormat ke arah penonton.

Di sebuah sudut tak jauh dari kerumunan, seorang sutradara berjalan mendekati lelaki setengah tua yang terlihat sebagai kepala dari gerombolan kecil itu.

“Selamat siang. Apakah Anda wali mereka?” tanyanya halus.

“Ya, tentu saja. Saya guru anak-anak jalanan ini.” Amrizal menyahuti tamunya antusias.

“Kalau boleh saya ingin memberi bantuan untuk mereka. Bisa jadi, beberapa anak berbakat akan saya beri beasiswa.”

Mata Amrizal berkaca-kaca. Dua lelaki itu membahas beberapa hal sebelum berpisah.

Jay merasa puas. Adrenalinnya naik karena semangat. Dia meraba saku jas sebelah kanan. Di gang sepi dia berhenti sebentar. Menyuapkan secuil sesuatu dari kantung plastik itu.

“Mm… Makanan bergizi itu diperlukan. Terutama oleh anak-anak.”

Pada tempat sampah terdekat dibuangnya sebuah kemasan plastik. Susu bubuk instan rasa coklat.

Hasna Wilda
Bdl, 160117

Advertisements