Azan magrib berkumandang tak lama setelah pasien baru datang ke kamar Delima 1. Seorang remaja ditemani ibunya yang sekarang duduk di ranjangnya.

“Sebenarnya sayang kalau ninggalin sholat,” ibu yang masih cantik itu berkata setengah menyesal.

“Bukan sayang, memang nggak boleh ditinggalkan,” wanita berdaster batik menimpali.

“Tapi saya gak betah. Belum ganti baju dan mandi. Badan saya kotor,” ibu cantik tetap pada pendiriannya.

“Ini darurat. Atau jamak saja diwaktu isya. Kalau sudah meninggal nanti, nggak bisa diganti lagi sholat itu,” lawan bicaranya memaksa.

Percakapan berhenti. Ibu cantik mendapat kiriman baju ganti dari rumah dan segera menuju kamar mandi ruang kelas dua rumah sakit.

“Bener-sih-bener. Tapi gitu banget ngomongnya. Bikin merinding aja,” pikirnya.

Saat keluar kamar mandi terlihat beberapa perawat mengelilingi ranjang di dekat pintu.

“Lho, siapa yang meninggal, Mas?” ibu cantik bertanya pada pasien di sebelah.

“Itu keluarga pasien yang sakit demam.”

Seorang perempuan muda dengan selang infus di tangannya tengah menangis. Para perawat mulai mendorong ranjang keluar kamar. Waktu berbelok, tangan sang mayit terjulur sebelah keluar dari kain penutup. Terlihat daster batik coklat tua bermotif bunga di atas tangan pucat itu. Ibu cantik terduduk kaget dan berteriak sekencang-kencangnya.

Hasna Wilda
Bdl, 150117

Advertisements