Matanya, bibirnya, … suaranya ….

Mei benar-benar terpana menatap makhluk di hadapannya.

“Ajari aku menjadi perempuan,” pintanya sungguh-sungguh.

Dean merasa kaget. Sebenarnya dia patut merasa tersinggung dengan permintaan itu. Tapi tidak. Alih-alih ia malah merasa tertarik dengan pernyataan wanita muda itu.

“Tapi kamu sudah perempuan,” Dean meneliti sosok dengan jilbab kaus dan kemeja tangan panjang.

“Tapi, aku sama sekali tidak feminim. Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Kamu pasti paham maksudku bukan seperti itu,” pinta Mei.

“Hm, tapi aku sudah tersinggung,” Dean membuat mimik tidak senang.

Mei serba salah. Memutuskan untuk diam saja daripada membuat situasi lebih buruk lagi.

“Ada satu jalan agar aku memaafkanmu sekaligus memenuhi permintaanmu.”

“Katakan, aku akan melakukannya!”

“Marry me,” kali ini hilang penampakan feminim dari sosok lembutnya. Mei terpana melihat aura yang berbeda dari Dean. Wajahnya memerah.

“Kau ingin menjadi perempuan, jadilah seorang istri. Tambah lagi menjadi perempuan super saat kau menjadi ibu, nanti.”

Mei menatap wajah teduh di depannya. Menatap ke dalam mata laki-laki yang tidak pernah dia bayangkan untuk memintanya menikah dengannya. Tiada yang dia dapatkan kecuali ketulusan Dean. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Hanya debar jantung yang menjawabnya.

Hasna Wilda
Bdl, 180117

Advertisements