Dari balik pundak bisa kulihat betapa berbeda penampilan perempuan paruh baya itu. Mungkin riasan yang menyapu merah di pualam pipinya. Namun yang paling mengesankan adalah tarikan sudut bibir yang maksimal menyentuh kerutan pinggir mata.

“Istirahat, Je,” panggilnya.

Kuletakkan karung semen dan mengikutinya ke warung pecel di sebelah toko.

“Lagi bahagia nih, Mbak Wulan,” Mbak bukanlah sebutan yang tepat baginya. Umur kami terpaut lima belas tahun. Dia terlalu muda untuk menjadi ibuku dan terlalu tua sebagai kakakku.

“Ibu mertuaku meninggal hari ini.”

Aku terkejut mendengar pernyataannya.

“Aku tahu yang kau pikirkan. Tapi, aku sangat menyayanginya. Setelah semua meninggalkan aku, ibulah satu-satunya keluarga yang masih ada. Sekarang tiada lagi tempatku berbagi kesedihan. Jadi aku putuskan untuk menampilkan kebahagiaan saja. Itu lebih baik bagiku juga untuk semua orang. Eh iya, aku belum pesan makanan. Sebentar ….”

Mbak Wulan meninggalkan meja dan memesan soto serta pecel lontong ekstra bawang kesukaanku.

“Lho, kenapa matamu?”

“Kelilipan. Mbak, saya cuci muka dulu ke belakang.” Ia mengangguk mengiyakan. Dalam hati menyesali pemikiran awal yang menyangka Mbak Wulan senang dengan kematian ibu mertuanya. Seperti orang-orang tak tahu malu yang terang-terangan berebut harta dari kerabat yang baru saja meninggal.

Kupencet nomor dari telepon genggam. Terdengar nada sambung disusul salam dari seberang.

“Apa kabar, Bang? Gimana ibu sama bapak? Begini Bang, jual saja sapiku di kampung. Nggak apa-apa. Yang penting Abang pikirin aja kesehatan dan lanjutkan usaha, ya?”

Terdengar getar dalam suara di ujung sana. Biarlah, jika sedikit pengorbanan ini bisa membantu keluarga. Toh, aku masih punya keluarga untuk berbagi kesedihan. Kalau bangkrut, juga bisa berbagi kemiskinan. Tak tahu lah, yang pasti ada tempat berbagi.

Hasna Wilda
Bdl, 200117

Advertisements