Dari jauh hidung kurus itu sudah berkerut mengendus-endus ke udara. Kacamata hitam bertengger di atasnya ikut bergerak turun naik. Lelaki tua bertopi itu meremas tongkat besinya dengan senang.

“Bawa makanan kemari lagi, Jang?” Pak tua tersenyum saat aku sampai di persimpangan Jalan Utama.

“Bondi, Pak,” selalu saja seenaknya mengganti nama orang.

“Tau nggak asiknya punya anak?”

“Nggak. Ngerepotin,” terbayang ulah bocah-bocah yang berisik di depan rumah.

Bibir hitam itu terbuka memamerkan dua deret gusi tanpa gigi. Tawa khas aki-aki keluar dari sana.

“Betul. Seperti kamu ngerepotin orang tuamu, kan?” kalimat itu telak menyinggungku.

“Jadi maksudnya saya harus balas budi dengan direpotin hal yang sama, gitu Pak?”

“Puding ini enak. Kamu baik banget ngertiin gigi ompong ini,” diabaikannya pertanyaanku tadi.

“Tau yang lebih enak, nggak?! Katanya lagi.
“Nggak perlu susah dianter kayak kamu begini. Kapanpun dimanapun, kalau anak berdoa pasti akan nyampe buat orang tuanya. Meskipun pada jarak yang tidak bisa ditempuh dengan jarak dan waktu. Ituh.”

Habis itu aku ingat mamah. Permintaan mamah untuk menimang cucu. Beliau sempat menyatakan khawatir aku tidak mendapatkan kemuliaan ini bahkan menyia-nyiakannya. Satu keinginan mamah yang terakhir.

Baiklah, Mah. Aku akan menikah. Nanti aku bawa keluargaku kepada mamah dan mengenalkannya. Kita pasti bisa bertemu walau dunia kita sudah berbeda, karena aku anak mamah.

Hasna Wilda
Sbg, 220117

Advertisements