Ini kali kedua kamu menghilang tanpa kabar. Meski sapaku masih terus terkirim ke dalam ponselmu. Kamu tahu, semakin lama hati ini jeri juga. Sesuatu yang dingin merambat pelan-pelan mendekati pusat jiwaku. Itu tentangmu. Apakah janji terpegang teguh?

Sebenarnya dalam hati pun aku berusaha menepati untuk tidak mengatakan apa-apa. Tentangmu kepada dunia. Tak bisa dikatakan tidak adil, hanya saja beberapa hal memang berat untuk diterima. Olehmu, mereka, dan … aku. Jadi biarlah saja semua berjalan tanpa campur tangan siapapun kecuali Allah.

Setiap individu bergerak dengan usahanya masing-masing. Sesuai yang dibisikkan hati nurani. Walau kadang nurani dikalahkan nafsu hingar bingar, menuntut untuk meletup, membakar, menyulut api. Setelah semua padam, nurani pasti terdengar dengan suara yang sama seperti sebelumnya.

Aku janji tidak akan mengeluh atau mengikuti mereka. Itu janji yang sangat privasi pada diri sendiri. Kamu adalah pribadi yang sama dengan semua manusia di dunia ini. Namun beberapa orang bersikeras menjadikanmu istimewa. Baik dalam arti positif maupun negatif. Jika ini berarti, aku akan bilang : kamu adalah kamu.

Janjimu itu tetap tertulis tebal dan terbaca jelas. Tidak akan pergi kemanapun tanpa pamit. Tidak akan berpisah tanpa mengatakan selamat tinggal. Detak jantung kita mungkin terhubung. Kalau salah satunya berhenti, kita akan tahu. Serta semua orang yang saling terhubung dengan tali kasih sayang.

Saat setiap hal yang menjadi keinginan manusia satu persatu gugur seperti daun, maka sejatinya bentuk pohon akan terlihat. Di taman yang berjauhan kita tumbuh tanpa saling memandang. Hanya desau angin yang menyampaikan kabar. Bahkan jika angin telah menjadi sebeku salju dan bertiup dengan keheningan yang dalam, aku pasti tau keadaanmu. Hingga angin mengantarkan lembaran terakhir dari gugur daunmu. I’ll be waiting.

Hasna Wilda
Bdl, 230117

Advertisements