17-1-17 tanggal yang cukup cantik. Tak kuduga kamu memilih hari ini untuk mengakhiri hubungan kita. Sungguh ironi.

Bukan sekali aku memergokimu. Kau janji tidak akan mengulangi seumur hidup. Namun sekali lagi kau berselingkuh dengannya. Mungkin berkali-kali.

Air mata menitik teringat kecurigaanku saat kau pulang dengan telah berganti pakaian. Parfum tercium semerbak sepulang kerja. Namun aroma yang coba ditutupi pasti terbongkar jika itu memang busuk.

“Bu Zani,” pengeras suara memanggilku ke loket dua.

Silakan formulirnya diisi, lalu difotokopi lima lembar. Setelah itu kembali ke ruang jenazah.

“Terima kasih, Mbak.” Kupandangi selembar sertifikat kematian yang mengesahkan perceraian kita di dunia.

Seorang ibu menyapaku, “Siapa, Neng, yang meninggal?”

“Suamiku, Bu. Kangker paru.” Ia mengangguk takzim dan menepuk pundakku, memberi dukungan.

Aku balas tersenyum dan melangkah keluar. Memandang penuh marah pada tempat sampah metal yang penuh berisi puntung rokok. Selingkuhan suamiku.

Hasna Wilda
Ktbm, 260117

Advertisements