“Tante, mobil tante mana?” Tanjo ponakanku tiba-tiba bertanya saat kami berjalan keluar pusat perbelanjaan.

“Ada,” sahutku asal.

“Kok gak keliatan?”

“Disimpen. Sekalian ama sopirnya.”

“Ooh. Kenapa disimpen?”

“Iya. Soalnya tante belum perlu. Nanti juga muncul kalo tante udah perlu.”

Boro-boro punya supir. Mobil aja nggak ada. Sebenarnya aku hanya ingin membungkam pertanyaan ponakanku yang masih TK itu. Dia selalu saja bertanya. Sering kali sampai ke hal-hal yang nggak masuk akal. Ah, sudahlah. Yang penting Tanjo sudah diam.

“Mbak, kita naik taksi aja ya?” saranku ketika melihat mendung di langit.

“Boleh deh. Sudah mau hujan, nih. Pak Apri kutelpon saja, nggak usah jadi jemput,” Mbak Mega mengambil ponsel dari tas. Rintik hujan mulai membasahi trotoar tempat kami berdiri.

Aku berniat mencegat taksi yang lewat. Namun sebuah mobil hitam menepi di dekat kami. Mas Yuda menurunkan jendela mobil dan menyapa.

“Hai, Ayuni. Mau kemana? Yuk bareng. Mau hujan ini.”

Aku mengangguk senang. Kebetulan sekali.

Setelah semua masuk mobil, hujan deras segera mengguyur jalanan.

“Tante, selamat ya!”

“Kenapa?” aku tak mengerti maksud Tanjo.

“Iya, tadi kan tante bilang kalau mobil tante disimpan. Kalau perlu baru datang dengan sopirnya sekalian. Ternyata bener. Berarti Om ini supirnya tante, ya?”

Ups!

Aduh, mau ditaruh kemana ini muka? Kulihat Mbak Mega senyum-senyum di kursi belakang.

“Iya, Om memang supirnya tante. Coba tanya tantemu. Kira-kira kontrak Om sebagai supir bisa diperpanjang sampe seumur hidup nggak?” Mas Yuda malah membuat suasana makin sulit.

“Ah, jangan jadi supir deh, Om. Mending jadi suami tanteku aja. Tanteku masih sendirian kok. Suerrr!”

Tawa Mbak Mega pecah tak tertahan lagi. Tinggal aku duduk tak berkutik di sebelah Mas Yuda. Menyesali mulutku yang asal saja menjawab pertanyaan ponakanku. Sekarang baru deh, tahu rasa. Harimau makan tuan.

Hasna Wilda
Ktbm, 290117

Advertisements