Sebuah chat muncul di layar ponsel Trisna.

“Lagi apa, Tris?”

Trisna menurunkan kuasnya sebentar.

“Nggambar. Kamu ngapain, Jak?”

“Baru pulang kerja. Mandi. Makan. Kepoin kamu.”

Jakya memang sedang meluruskan kaki. Air masih menetes dari rambutnya yang dibiarkan basah. Mi tek-tek pesanannya masih mengepul menebar aroma wangi di kamar kosnya.

“Tumben nggambar,” ketik Jak.

Trisna akhirnya memutuskan menambahkan warna biru muda untuk langit di kanvasnya.

“Menghibur diri sendiri.”

“??” Jak lalu menekan tombol kipas angin.

“Menggambar hiburan buat aku. Dan nggak ada yang lebih bisa menghibur diri kita selain kita sendiri.” Trisna menyapukan warna jingga terang.

Jak tersenyum lucu.

“Halah, itu karena kamu nggak punya orang untuk berbagi. Percaya sama aku, kamu pasti ketagihan kalo udah punya.”

Trisna berhenti menggambar. Melap tangannya pada celemek dan memegang ponsel dengan dua tangan.

“Nggak! Aku bukan orang yang selalu mengumbar masalah dengan bercerita pada semua orang.”

Lama Trisna menatap layar menunggu jawaban Jakya. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Trisna menggerutu.

“Jakyaaa … lagi ngapain, sih? Lama banget jawabnya.”

Gadis itu menjerit di telepon dengan kesal. Namun pemuda yang dituju tidak segera menjawab. Hanya bunyi menyeruput terdengar dari sebelah sana.

“Hey, lagi ngapain sih, kamu?”

“Minum es teh,” keringat mengucur di dahinya.

“Minum es lama banget. Lima menit!”

“Oh, kalau tadi makan mi. Mau?”

“Makan mi lima menit. Cepet amat?”

Jakya menjauhkan ponsel dari kuping. Tertawa tanpa suara pada gadis yang tengah meneleponnya.

“Terus kamu mau ngapain?” tanyanya.

“Jawab chat aku. Se-ka-rang!” Sambungan diputus seketika.

Jakya menatap ponsel dan termangu. Chat dari gadis itu muncul lagi.

“Kok nggak dibales?”

“Bingung.”

“Bingung kenapa? Tulis apa kek ….”

Jakya mengirimkan emoticon tertawa.

“???”

“Kamu bilang nggak butuh teman berbagi.”

“Aku cuma bilang nggak mau cerita sama semua orang.”

“Oooo.”

“Aku cuma ingin cerita sama orang-orang tertentu. Orang yang bisa kupercaya.”

“Oke. Jadi, kenapa kamu sedih?”

“Aku nggak bisa ngelakuin apa yang kumau. Semua berantakan, Jak. Nggak punya waktu untuk bersantai. Nggak ada waktu buat diri sendiri. Tapi berkat sedikitnya waktu, aku jadi tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Menggambar membuatku merasa tenang. Aku bisa mengurai kekusutan dengan ini. Inilah yang harusnya kulakukan untuk menghabiskan sebagian besar waktuku.”

“Bagus kalau begitu.”

“Makasih, Jak.”

“Buat apa??”

“Udah dengerin aku.”

“Aku nggak dengerin. Tapi bacain dari tadi.”

“Iyaaaa deeeeh.”

“Tris,….”

“??”

“Kalau kamu mau, aku bisa jadi orang yang selalu dengerin curhatanmu. Setiap hari. Setiap waktu.” Jak agak menyesal setelah mengirim pesan itu.

“Iya, aku tahu kamu teman terbaik buatku.”

Inilah yang ditakutkan Jakya. Kalau saja perempuan punya akal yang lebih pintar, Trisna pasti tahu apa maksud kalimatnya. Tapi seperti biasa, gadis itu hanya menganggapnya sebagai sahabat.

Jakya merasa putus asa. Tidak. Kali ini dia meyakinkan diri untuk berterus terang.

“Tris, kamu ngerti kan maksud kalimatku?” ketiknya.

Tolong jangan buat aku mengatakannya lagi. Batin pemuda itu dalam hati.

Lama tak ada jawaban.

“Tris?” ketiknya lagi.

Pupus harapannya. Mungkin gadis itu sudah tidur. Atau asik menggambar. Atau tidak ingin membahas masalah ini.

Jakya berdoa sepenuh hati.

“Bentar lagi,” tiba-tiba balasan Trisna muncul.

Tak lama kemudian gadis itu mengirim foto lukisannya. Sebuah padang rumput dengan bunga-bunga mekar serta matahari dan langit biru. Namun bukan gambar itu yang paling membuat Jakya senang. Satu kata tertulis tepat berada di tengah gambar.

Ya!

Cepat Jakya menelepon Trisna.

“Tris, kamu serius? Kamu mau sama aku?”

“He-em,” gadis disana menjawab malu-malu.

“Tapi …,”

“Tapi, apa”

“Aku belum bilang ‘Marry me’,” tawa usil keluar dari mulutnya.

Sontak gadis itu marah dan mulai mengomel panjang lebar. Apakah lelaki ini hanya mempermainkannya?

Saat ia hampir menangis dan menutup telepon, Jakya berkata,
“Will you marry me?”

Gadis muda di seberang sana sontak terdiam. Dia tak tahu harus bilang apa. Berbagai perasaan berkecamuk dalam batinnya. Haru, suka cita, melambung….

“Itu…kamu bilang aja sama Bapakku nanti.”

Pipinya merah, matanya basah. Senyum mengembang di bibirnya. Serupa senyum yang ada di wajah pemuda.

Hasna Wilda
Ktbm, 290117

Advertisements