Seperti tiap jari yang punya satu sidik jari. Namun bekasnya tertempel dimana-mana. Ribuan.

Demikian jejakku dan jejakmu. Ada kalanya kita berpisah sangat jauh. Lain waktu tertempel erat.

Entah berapa banyak hari yang kita lalui dengan manis serta pahit. Aku lebih suka mengalkulasinya ke hitungan detik, hasilnya pasti lebih banyak.

Yang kutahu kisah kita masih semuda jagung. Masih ratusan panen yang ingin kutempuh bersamamu. Namun jika jari ini hanya sepuluh, maka akan kuhitung lambat-lambat.

Setiap rentangan telah lengkap akan kumulai dari telunjuk lagi. Waktu tak bisa berhenti. Bagi sebagian orang, ya. Seperti dirimu hari ini.

Jariku tinggal lima. Lima yang lain tertempel di dadamu. Aku hanya berani menghitung separuhnya, Sayang. Kutakut sepuluh terlalu banyak. Tak ingin hitungan terhenti sebelum genap.

Dua puluh. Jemari kita bersatu. Tergenggam erat pada janji yang paling kuat di hadapan Tuhan. Meski janjimu tunai lebih dulu.

Aku telah melupakan semua hitungan. Hanya akan menikmati masa terakhir. The best moment of you and I.

Walau detakmu terhenti, nanti. Aku akan hidup untuk detak kita berdua. Semua yang kau beri menambahkan sesuatu pada diriku. Aku tak akan pernah sama. Karena aku pernah memilikimu. Jika rindu, akan kupandang sepuluh jari tanganku. Dimana setiap waktu terselip jemarimu. Sepuluh.

Hasna Wilda
Ktbm, 290117

Advertisements