Umay dan Unang adalah karib sejak sekolah dasar. Dua anak lelaki itu selalu bersama kemanapun. Bahkan saat tamat SMA Unang mengikuti Umay untuk bekerja sebagai kuli pasir milik seorang pengusaha daerah.

“Nang, inget nggak? Waktu kecil dulu kita sering manjat pohon rambutan Pak Rozi.” Umay membuka bajunya dan mengikatkan ke atas kepala. Terlihat batas warna kulit kuning sebatas tangan baju. Unang mengangguk.

“Tiap pulang sekolah kalau lagi musimnya kita ambil rambutan sama teman-teman.” Umay mengenang sambil tersenyum.

“Mentang-mentang musim rambutan, nih?” Unang mencoba mencari tahu isi pikiran temannya itu.

Umay tersenyum. Mereka berdua masih terangguk-angguk di atas trus pasir bermuatan penuh. Matahari tinggi tepat di atas kepala.

“Nang, mulai sekarang kamu jangan ngikutin aku.”

Unang terkejut. Apa dia telah membuat temannya itu tersinggung sehingga tak ingin berteman lagi dengannya?

“Kenapa, May? Maafin aku kalo ada salah.”

“Hahaha, aku maafin! Maafin aku juga, ya? Kayak lebaran aja,” pemuda itu memamerkan giginya yang kekuningan.

“Tapi serius ini. Soalnya aku mau pergi. Kamu mendingan sekolah lagi sana,” lanjutnya lagi.

“Dah, nyuruh orang sekolah lagi. Duit dari mana? Lagian kamu sendiri nggak sekolah,” Unang berkata sinis.

“Hei, jangan salah. Gini-gini aku lebih pinter dari kamu. Cuma … males ngerjain PR aja,” ujarnya ngeles.

“Dasar kamu!” Unang mendorong kepala temannya yang sedang terbahak.

“Eh, rambutan! Ayo ambil, Nang!” Umay menepuk kap mobil, meminta sopir memelankan laju truk.

Sepanjang jalan menuju tempat pengumpulan pasir banyak ditumbuhi pohon rambutan yang berbuah lebat. Umay dan Unang bersiap menyambut segerumbul rambutan lebat.

“Wah, dapet banyak!” Unang membelalak dengan gembira.

Truk pasir kembali melaju. Tak lama nampaklah segurumbul buah rambutan yang lebih ranum dan lebat.

“Tangkap, Nang, tangkap!” Umay bersiap melompat.

“Jangan, May!” Unang memperingatkan kawannya karena saat itu mobil tengah melaju.

Umay tak menghiraukan seruan Unang. Ia tetap menangkap rambutan dan berhasil. Namun kondisi jalan yang berlubang mengguncang mobil dan membuat pemuda kurus itu terjungkal hilang keseimbangan.

“Tolooooong … Bang, berhenti, Bang! Umay jatuh!” Unang menepuk kap mobil panik.

Mereka segera menepi. Orang-orang segera berlari menuju Umay. Umang dan sopir truk menyibak kerumunan orang. Terlihat genangan darah di bawah kepala Umay yang jatuh terlentang. Buah rambutan berhamburan di sekelilingnya.

“May … Umay, bangun. Kamu nggak boleh mati. Kamu nggak boleh pergi!”

Seorang bapak memeriksa denyut nadi Umay. Kemudian menatap Unang lama. Kepalanya menggeleng perlahan. Pemuda itu terpana. Dia tak bisa berpikir. Pandangannya berputar.

Hasna Wilda
Ktbm, 300117

Advertisements