Dia berlari melintasi halaman. Kakinya yang lincah menyibak rerumputan penuh sampah. Berhenti sebentar dan mencari sesuatu di tanah. Apa, ya?

Semeter di depannya pintu tertutup rapat. Hanya jendela yang sedikit terbuka. Dengan sigap dicungkilnya lembaran kayu dan melompat ke dalam.

Dok dok dok!
Terdengar suara kayu diketuk dari dalam rumah.

“Bagyo … Bagyo …,” dua anak kecil memanggil teman mereka dari luar.

“Sebentaaaar …,” suara cempreng menyahut tidak sabar. Tak lama sosok¬† kecil bercelana pendek keluar sambil menarik resleting.

“Ngapain, sih, kamu?” Icang mendelik sebal.

“Buang air kecil,” jawabnya santai.

“Ah, buang air, kok, pakai ketok-ketok segala?” seru Empi penasaran.

“Halah, kepo banget, sih? Mau lanjut main apa enggak?”

Dua temannya saling pandang dan mengedikkan bahu. Ketiganya kembali ke lapangan. Bagyo menengok ke belakang. Dalam hati merasa was-was. Berharap tidak ada yang tahu ada uang lima puluh ribu rupiah di balik papan penyekat rumah. Yang ia temukan di depan rumah.

Hasna Wilda
Ktbm, 310117

Advertisements