Seperti biasa saat pulsa atau kuota internet habis, aku menuju kios langganan untuk mengisi ulang. Di warung kelontong Mang Cik mampir sebentar membeli gula.

“Gimana kabarnya, Kak? Udah lama nggak kelihatan.” Bi Uci melayani pesananku.

“Ah, baru juga pergi seminggu, Bi. Ada hajatan di kampung,” Bi Uci dan Mang Cik memang sangat dekat dengan keluarga kami.

“Yah, kirain Kakak yang hajatan. Kapan dong ngundang?” Mang Cik kembali pada pertanyaan yang membuatku sengau.

“Iya, nanti, Mang.” Kutampilkan senyum semanis mungkin.

“Kak, kalau mau ada kenalan Mamang. Orangnya … beuh!” Lelaki bertubuh besar itu mengacungkan dua jempol. Aku mencoba antusias.

“Tapi kalau ketemu nanti penampilan Kakak harus diubah sedikit. Pakai jilbab syar’i yang panjang kayak orang-orang pake sekarang. Terus bilang aja Kakak nggak kerja. Ngomong yang lembut. Gitu tipe perempuan yang dia cari.” Astaga, sesuatu terasa menusuk hatiku.

“Mang, makasih atas perhatiannya. Saya memang sedang mencari jodoh. Tapi nyari yang biasa saja, seperti saya. Kriteria saya mungkin berbeda dari yang dia cari. Ana takut nanti tidak bisa menyesuaikan diri dan malah mengecewakan. Mudah-mudahan segera bertemu yang cocok,” kuusahakan nada suaraku terdengar biasa saja.

Bi Uci mencubit pinggang suaminya. Wajahnya terlihat tidak enak.

“Bibi setuju sama Kak Ana. Biarlah dari awal sudah serasi, jadi nggak usah pake bohong-bohong. Nanti malah berantem.”

Bibi memberikan kembalian dan kantong belanjaan. Aku mengangguk dan segera pamit. Jodoh itu harus diusahakan, namun bukan berarti harus dipaksakan. Yakin ada lelaki yang tepat sedang menuju kesini. Akan kutunggu sambil meningkatkan kualitas diri.

Hasna Wilda
Ktbm, 310117

Advertisements