Lolo mendongak ke langit. Tempatnya berdiri mendadak gelap. Gerimis turun dengan cepat menjadi lebat. Gadis berkulit cokelat segera berlari menuju rumah.

Sesampainya di teras ia berbalik dan menepuk dahi. Berlari kembali menuju kebun dan mengangkat wadah plastik dari rak.

Basah kuyup seluruh tubuh saat ia mencapai pintu rumah. Tak segera masuk, melainkan menatap heran pada nampan plastik di tangannya.

“Aku heran. Kenapa setiap menjemur ini selalu turun hujan.”

Kepalanya miring ke kanan. Tanah dalam wadah itu kembali basah. Dalam tiga hari ini tak pernah berhasil kering.

Ia mencakung sambil tetap memperhatikan. Sesuatu terlintas dalam pikirannya. Kemudian ia mengorek tanah itu dengan jari tangan.

“Oh, rupanya ada kamu?” gadis itu tertawa sambil sebelah tangan mengangkat cacing berukuran sedang.

“Pantas saja hari selalu hujan. Pasti kamu kepanasan dan berdoa agar hujan turun,” ia membawa nampan itu ke sudut halaman.

Di bawah rumpun mawar ia menuang semua tanah dalam nampan.

“Maaf, ya? Lain kali aku akan mengayak tanahnya dulu sebelum menjemurnya.”

Ia mengucapkan selamat tinggal pada cacing dan bergegas masuk ke rumah.

Hasna Wilda
Ktbm, 010217

Advertisements