Segera setelah sampai di rumah, kuajak Riana masuk ke kamarku untuk beristirahat. Kami berbincang dan bertukar kabar masing-masing. Enam tahun lamanya kami tidak saling bertemu, rasanya senang sekali seperti ini.

“Eh, coba kulihat. Siapa laki-laki yang sudah kau curi hatinya?”

Iseng kuambil dompet dari tasnya. Riana mencoba merebut sambil tertawa. Tapi aku lebih sigap. Segera kubuka dompet. Sebuah kartu jatuh ke lantai.

“Hei? Aku kenal banget wajah imut ini.”

Riana tergelak saat kuhadapkan foto yang tertempel pada kartu yang jatuh dari dompetnya.

“Foto waktu kita SMA. Rambutku masih sepanjang itu,” dara manis itu memperlihatkan lesung pipi di wajahnya.

“Tapi …, kenapa kartu ini ada dalam dompetmu? Apa kamu selalu membawanya?” aneh menurutku.

“Hmmm…,” ia tersenyum mengeryit, “soalnya aku kangen baca buku. Aku pingin banget ke perpustakaan lagi. Tapi di desa terpencil seperti ini tidak ada perpustakaan. Padahal seandainya murid-muridku membaca buku, mereka pasti tahu dunia luar. Aku kepingin banget mereka bisa membaca karya-karya yang mendunia.”

Aku ingat saat kami sekolah dulu. Berdua membaca di perpustakaan hingga istirahat berakhir. Hingga kami lulus dan kuliah di jurusan yang berbeda.

Tak kusangka dia tetap seperti itu. Bagaimana denganku yang selalu dikelilingi fasilitas dan akses yang mudah? Malah lalai dan sibuk pada hal-hal yang kurang penting.

“Ri, kamu mau apa enggak bawa buku-buku lamaku ke tempat kerjamu?” malu-malu kutawarkan koleksi buku yang tersimpan di gudang.

“Mauuuuu, mau banget, Lin!” wajah Riana terlihat lucu dengan matanya yang semakin bulat.

Kuajak dia melihat album lama saat kami sekolah dulu. Saat kami masih muda, lucu, dan bersemangat. Diam-diam aku memperhatikannya. Terima kasih itu untukmu, Ri. Mengingatkanku untuk giat membaca lagi. Suatu saat nanti, bukan hanya buku lama. Akan kukirim buku-buku baru untukmu juga murid-murid kesayanganmu.

Hasna Wilda
Ktbm030217

Advertisements