Televisi menyiarkan program flora dan fauna sore itu. Fiska mendekap kencang bonekanya saat menyaksikan hewan buas memangsa buruannya.

“Mama …, ih seremmm,” gadis cilik itu menghambur memeluk kaki ibunya yang baru kembali dari dapur. Dua gelas besar susu cokelat ditangan, satu untuknya satu untuk putrinya.

Mama membelai rambut Fiska lembut setelah meletakkan gelas di atas meja.

“Binatang-binatang itu mengeroyok seekor banteng. Mereka membuatku takut,” rengek Fiska sambil menengadah melihat wajah ibunya.

“Sayang, masih ada yang lebih mengerikan,” Mama mengganti channel ke program berita.

“Ngg… Nggak ada yang serem, tuh? Mereka semua manusia,” ujar gadis cilik heran.

“Fiska tahu, manusia bisa lebih berbahaya dari binatang buas. Bahkan masing-masing memelihara satu. Setelah mangsanya habis, mereka akan saling menerkam satu sama lain.”

Fiska menggeleng tak mengerti.

“Fiska mau jadi orang baik? Iya? Bagus. Kalau begitu jaga mulut baik-baik, oke? Jangan berbohong atau menjelek-jelekkan orang lain. Nah, anak Mama yang baik sekarang minum susunya, ya?” Mama membelai pipi gadis itu. Fiska tersenyum dan meneguk minumannya.

Hasna Wilda
Ktbm, 040217

Advertisements