Cassandra belum juga menyeruput kopi di depannya. Matanya menerawang menembus jendela kaca tepat di samping tempat ia duduk sekarang. Kacanya yang lebar dan rendah menghadap ke jalan di penuhi titik-titik air yang kemudian cair perlahan.

Ia masih ingat betul saat itu. Serasa baru kemarin ia melihat Sam bermain di halaman rumah. Hanya mengenakan celana pendek dan kacamata google. Sama seperti saat ini, dia akan menunggu sambil minum kopi bersama suaminya. Dari luar Sam akan melambaikan tangan dan bermain hujan hingga puas.

“Mom … Mooom …!” teriaknya suatu hari.

“Ada apa, Sam? Kamu sudah pulang rupanya.”

“Mom, aku nggak mau tumbuh dewasa. Aku mau jadi anak kecil selamanya,” erat dipeluknya wanita itu.

“Kamu nggak mau jadi dewasa? Baiklah. Tapi, kenapa?” Cassandra bertanya dengan senyum tertahan.

“Teman-temanku bilang Mom akan menjadi tua saat aku dewasa. Lalu Mom akan meninggalkan aku. Aku tak ingin jauh dari Mom. Please, biarkan aku kecil terus,” isakan mulai terdengar.

Cassandra terharu dan balas memeluk Sam.

“Sayangku, Mom janji. Sampai kapanpun Mom akan selalu bersamamu.

Matanya mulai merebak mengenang kejadian itu. Sejak Sam mengatakannya, Cassandra selalu berusaha memenuhi janji untuk selalu mendampingi anak semata wayangnya itu.

Namun sekarang suaminya telah tiada. Sam telah menjadi dewasa dan berumah tangga. Ia masih akan selalu ada jika Sam butuhkan. Namun dia lupa bilang pada Sam untuk melakukan hal yang sama.

Oh, tidak. Dia tak akan tega melakukan itu. Tapi kesendirian ini pelan-pelan menyelimuti dirinya. Seolah terbungkus kabut yang dingin dan berat. Apakah ia akan mati sendirian? Betapa menyedihkan pikiran itu. Bahkan ia mulai berhalusinasi. Mendengar suara Sam memanggil dirinya. Seperti dulu.

“Mom … Mom …? Mom.”

Cassandra menghapus air matanya. Sepasang lengan terbalut sweater maroon melingkari tubuhnya.

“Mom, kenapa tidak menjawab? Apa bel-nya rusak?” lelaki muda jangkung berambut cokelat menatapnya penuh sayang.

“Sam? Tapi … tapi apa yang kau lakukan disini?” gagapnya.

“Kami telah memutuskan untuk pindah kesini. Karena Mom tidak mau ikut kami, Marry bersikeras agar kami yang kesini. Kami sangat khawatir padamu, Mom.”

Dari pintu ruang tengah terlihat Marry tersenyum sambil menggandeng Mathew, cucunya yang berusia lima tahun.

“Mom lihat rumah di samping sana? Kami berhasil membelinya. Tapi kepindahan ini akan memakan waktu lebih dari sebulan. Kuharap Mom tidak keberatan meminjamkan kamar pada kami. Marry dan Mathew bisa pakai kamar depan. Aku akan numpang tidur di kamar Mom,” godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Tentu saja, Sayang. Tentu saja …,” Cassandra memeluk putranya. Marry dan Mathew bergabung.

Tak lama Marry membuatkan minuman untuk semua orang. Mathew mulai berceloteh tentang mainan kesukaannya. Cassandra merasa hujan hari ini terasa hangat dan nyaman. Dia yakin seterusnya akan selalu begitu.

Hasna Wilda
Ktbm, 050217

Advertisements