Kehadiran Rafia mencairkan sedikit kebekuan di antara mereka. Rani sangat menyukai anak-anak, beberapa orang saja. Sebenarnya anak-anaklah yang sering tertarik kepadanya.

Gita juga sedikit lega. Sebenarnya ia tak punya masalah dengan Rani. Hanya saja sikap adik iparnya itu dingin dan susah didekati. Dia sendiri bukan orang yang hangat. Jadi beginilah hubungan mereka.

“Rafia udah dua tahun, kan, Git?” gadis muda itu bersikeras tak ingin memanggil ‘Mbak’ pada Gita.

Gita mengangguk. Ia sudah paham dan tidak ambil pusing dengan kelakuan Rani.

“Tepatnya dua tahun enam bulan. Ayo, kutunjukkan kamarmu.”

Gita membawa Rani ke bagian tengah rumah. Ia tahu Rani pasti sudah lebih hafal isi rumah ini daripada dirinya sendiri. Tapi kamar yang sudah ia siapkan ada di ruang tengah. Tempat strategis dan menyenangkan. Tidak terlalu dekat jalan dan ruang praktek, sehingga takkan bising. Juga dekat ruang makan dan ruang keluarga. Rani pasti suka. Semoga.

Walaupun mereka tidak akrab, Gita ingin Rani merasa betah. Damar telah menelepon sebelumnya dan menyampaikan masalah Rani. Mereka berdua sepakat membiarkan Rani tinggal di desa bersama mereka.

“Ini kamarnya, dan ini handuk untukmu. Cepatlah mandi, hari mulai sore.”

Rani menjawil pipi Rafia sebelum gadis itu berlari menyusul ibunya.

“Hmm…, awas nanti. Kamu pasti nggak mau jauh-jauh dari aku,” tekadnya untuk menaklukkan hati gadis kecil itu.

Tapi, Rafia? Apa tidak ada nama lain yang lebih baik? Nama itu mengingatkannya pada merk tali plastik yang banyak dijual di warung. Rani mulai cekikikan sendiri. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini ia merasa lebih baik. Dia mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi.

Bersambung…

Hasna Wilda
Ktbm, 050217

Advertisements