Gadis itu meletakkan ransel di sudut kamar. Sebuah lemari baju model lama dan meja rias diletakkan bersisian. Rani meletakkan kamera di atas meja kerja lengkap dengan kursinya. Jendela di sisi kanan menampilkan cahaya yang menerangi meja itu. Saat melihat keluar, tampak pepohonan dan rumah tetangga yang jaraknya cukup jauh.

Ia mencoba kasur kapuk di atas ranjang yang cukup untuk dua orang. Empuk. Diambilnya handuk dan melihat ada selembar kain batik di bawahnya.

“Buat apa kain ini?”

Rani keluar mencari Gita. Langkahnya menuju dapur. Sambil melihat-lihat keadaan rumah yang hampir tidak berubah sama sekali. Hanya beberapa barang yang terlihat baru.

Sesampainya di dapur ia bertemu seorang perempuan tua sedang memasak.

“Mbok, lihat Gita, nggak?”

Simbok menoleh dan tersenyum. “Ini pasti Nak Rani, ya? Perkenalkan, saya Mbok Sinem yang bantu dan nemenin Bu Gita disini.”

Sambil terus memasak, Mbok Sinem bercakap-cakap dengan penghuni baru itu.

“Ng, Mbok, saya mau tanya. Kain ini buat apa, ya?” akhirnya Rani bertanya.

“Oh, iku telesan, Mbak. Basahan, kain buat mandi.”

“Emang harus dipake, Mbok?”

“Ya, biasanya memang begitu kalau disini. Apalagi kalau mandinya di kali.”

“Kok pakai basahan? Dulu enggak,” protes Rani.

“Lho, memang Mbak belum lihat kamar mandinya?” Mbok Sinem memandang heran.

Rani merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia segera menuju kamar mandi. Gadis itu menepuk jidat.

Ya, ampun. Pantas saja disuruh pakai basahan. Kamar mandi itu sudah lama sekali tidak direnovasi. Sebagian temboknya telah rubuh. Sebagai gantinya papan-papan horizontal melintang dengan celah yang jarang.

“Alamak, kacau kalau begini,” Rani segera masuk dan berganti dengan kain.

Mau tak mau ia harus mandi. Memang tidak biasa dengan kamar mandi ‘baru’ ini. Namun perjalanan panjang kesini membuatnya gerah. Tubuhnya menuntut untuk segera dibasuh dengan air dingin.

Dara muda itu hendak menyiram tubuhnya dengan gayung. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu yang lunak dan licin.

“Huwaaaa!!”

Seekor cacing bergeliut di bawah kakinya. Dengan panik ia menyiramkan air untuk mengusir makhluk itu ke saluran pembuangan.

Detak jantungnya menjadi kencang tak beraturan. Membuatnya harus bersandar pada dinding kamar mandi. Lalu sesuatu merayap ke arah lehernya.

“Aaaaaa … ada luiiing, hiiii geli geli geli,” gadis itu melompat-lompat dalam kamar mandi.

“Hei, berisik banget. Oh …, ada yang lagi mandi rupanya,” suara lelaki mengagetkan Rani. Sontak ia melihat ke arah kiri. Dari celah papan sepasang mata menatap ke arahnya. Secepat kilat diambilnya air dan menyiram orang itu.

“Kurang ajar!!!” teriak Rani marah.

Bersambung….

Hasna Wilda
Ktbm, 050217

Advertisements