Air masih menitik dari rambut lurus sebatas punggung. Ia masih merasa kesal dengan kejadian tadi. Dasar manusia berotak kotor! Sudah tahu kamar mandi, kenapa masih ngintip ke dalam juga. Begitu pikirnya.

“Sudahlah, Ran. Kek Mijan sudah pikun. Matanya setengah buta karena katarak. Jadi nggak mungkin dia bisa lihat kamu mandi tadi,” namun dalam hati Gita merasa geli bercampur kasihan. Pastinya juga akan marah jika itu terjadi pada dirinya.

Rani masih ingin meluapkan amarah. Namun kemudian hidungnya mengendus sesuatu. Bau apa ini? Apa ada kotoran kucing di dekatnya?

Dia memeriksa telapak kaki, alas kursi, bawah meja bahkan sekitar teras tempatnya duduk. Ragu-ragu ia mencium ketiaknya. Masa iya, sih, dia sebau ini? Kan baru mandi.

“Git, kamu pelihara kucing?”

“Enggak. Kenapa?” Gita hendak memasukkan motor ke dalam rumah.

“Kok ada baunya?”

“Bau?”

“He em, kaya’ bau kotoran kucing. Asem-asem bau banget gitu,” ia memencet hidung dengan telunjuk dan jempol.

“Pasti kamu mencium bau karet. Asam semut baunya memang begini. Digunakan untuk menggumpalkan karet cair sehingga mudah dikumpulkan. Orang-orang di desa ini sebagian besar menyadap karet, selain bekerja di ladang.”

Gita tertawa melihat ekspresi Rani yang menunjukkan mual.

“Lama-lama kamu akan terbiasa. Paling tiga hari juga udah kebal. Tenang aja, masih banyak bau-bauan yang bakal kamu cium,” ibunya Rafia itu tersenyum geli dan masuk ke rumah.

“Eh, tadi kamu dari mana?”

“Ada pasien mau melahirkan. Tapi masih bukaan satu. Paling tengah malam atau subuh aku dijemput lagi,” terdengar jawaban dari dalam.

Rani kembali sendiri. Udara sore bertiup sejuk. Langit semakin redup. Aroma-aroma lain bermunculan. Sejak pertama kali sampai di rumah ini, baru ia sadari banyak hewan di sekitar rumah. Ayam, kambing, sapi. Rani beranjak dari kursi teras. Menahan napas demi mencegah aroma ‘sedap’ mamasuki hidung.

“Tiga hari …,” desahnya. Ia bersiap untuk membawa parfum kemanapun.

Bersambung…

Hasna Wilda
Ktbm, 070217

Advertisements