Setelah menamatkan kerja sehari, malam ini ada waktu untuk bersantai. Penghuni rumah lainnya sudah tertidur beberapa waktu yang lalu.

Dikeheningan malam ini, tiba-tiba Bang Ilham menghampiri.

“Neng, Abang kangen. Udah tiga hari nggak ada kabar kelanjutannya,” Bang Ilham berkata mesra.

Mungkin wajahku jadi merona. Sebenarnya akupun rindu.

“Ah, Abang bisa aja,” tersipu aku malu-malu.

“Kita buat cerita, yuk, Neng?”

“Ah … cerita tentang kita berdua, ya, Bang?” aduh jadi berdebar-debar.

“Astagfurulloh, insaf, Neng. Maksud Abang itu buat cerita lanjutan cerbungnya. Hadeeeh …!!”

Ya, ampun. Malu banget.

“Makanya, Neng. Jangan suka ngelamun. Jadinya susah memisahkan antara hayalan dengan kenyataan.”

Bang Ilham lenyap. Di depanku hanya ada sebaris judul di atas kertas polos putih. Tak ada tambahan satu paragrafpun untuk openingnya dalam setengah jam ini.

Hiks! Kamera, mana kamera?

Aku mulai melambaikan tangan. Bisa nggak, sih, bagian yang tadi di-cut aja.

Hasna Wilda
Ktbm, 112-17

Advertisements