Ketukan lembut di pintu kamar membangunkan gadis itu. Perlahan Rima beranjak dan membukanya.

“Rim, aku minta tolong, ya?” Gita menggendong Rafia dengan kedua tangan. Ia mengenakan jilbab dan pakaian lengkap siap untuk pergi.

Jam berapa ini? Rima menoleh dan mendapati jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.

“Pasienku akan melahirkan. Keluarganya sudah menjemputku untuk pergi kesana,” ibu muda itu terlihat sangat berharap.

“Mbok Sinem mana? Kamu nggak akan bawa Rafia pergi, kan?” gadis itu menggeser tubuh untuk memberi jalan masuk Gita.

“Justru itu,” Gita melangkah masuk, “Simbok sedang ada acara keluarga. Jadi tidak menginap disini. Aku butuh bantuanmu untuk jaga Rafia. Bisa, kan?” Gita setengah memaksa.

Rani mengangguk. Dengan hati-hati Gita membaringkan anaknya ke atas kasur. Kemudian berpamitan dengan bahasa isyarat.

Rani mengantar sampai pintu depan sembari menguncinya kembali. Dari jendela, Rani melihat motor yang membawa iparnya menembus udara sangat dingin dan jalanan desa gelap tanpa penerangan.

“Huff … aku mau tidur lagi, selimutan …,” namun langkahnya terhenti saat memasuki kamar.

Gadis mungil itu terbangun dari tidurnya. Dengan bingung mengerjapkan mata melihat sekeliling. Tidak mendapati ibu di dekatnya, melainkan Rani yang tidak dia kenal. Rafia mulai terisak.

“Ibu … Ibu …,” panggilnya.

‘Oh, tidak,’ pikir Rani.

Bersambung….

Hasna Wilda
Ktbm 130217-

Advertisements