Gadis berambut keriting yang mirip artis cilik Romaria itu menekuk bibirnya ke bawah. Hilang sudah kantuk Rani. Ia segera memutar otak untuk menenangkannya.

“Eh, Fia sudah bangun? Baru Tante mau nyusul,” hati-hati ia membujuk.

“Ibu mana?” mata bulat Rafia yang berair diliputi kecemasan.

“Mm … Ibu lagi pergi. Fia sama Tante dulu, ya?”

“Ndak mau. Simbok mana?” suara cadelnya makin bergetar.

Wajar sekali, anak-anak seusia Fia biasanya hanya nyaman bersama orang-orang yang dia kenal. Sedang Rani baru dikenalnya kurang dari sehari.

Ketika Rafia mulai mengusap matanya dengan punggung tangan, Rani coba mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

“Hei, lihat! Tante punya ini,” cepat disambarnya kamera digital dan menekan tombol on.

“Wah, gambarnya bagus-bagus, ya?”

Rafia melihat gambar satwa di layar kamera. Tertarik dengan burung berwarna-warni yang sangat cantik. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Rani.

“Fia, lihat nih, Tante punya apa ….”

Rani membuka ransel dan mengambil sebuah tas kecil. Di atas kasur, ia menumpahkan peralatan make up yang berwarna-warni. Rafia mengambil kotak eye shadow.

“Ini begini cara pakainya,” Rani mengulas kuas ke kelopak mata. “lalu yang ini begini.”

Sebentar kemudian kedua gadis itu sibuk menghias diri. Rafia mencoba mengikuti cara Rani menyapukan alat make up. Kemudian asik bereksperimen mengoleskan warna-warna dengan jarinya.

Dari wajah dan tangannya ia beralih menyapukan bedak dan lipstik ke wajah Rani. Rani tertawa melihat coreng moreng di wajah mereka. Rafia ikut tergelak. Rani mengambil beberapa foto wefie dan menunjukkan pada ponakannya. Kemudian Rafia mulai bergaya sendiri di depan lensa.

“Fia … ayo lihat kesini,” Rani menjepret kameranya berkali-kali.

Ditengah sesi foto, tiba-tiba Rafia mendekati Rani dan menarik tangannya. Mengajak sang tante menuju kamar ibunya. Setelah sampai di dalam, ia menunjuk rak di atas meja rias Gita.

“Itu … itu …,” tangannya menunjuk sebuah wadah plastik berisi berbagai jepit dan aksesoris yang cantik.

“Punya Fia? Mau pakai ini?”

Gadis kecil itu mengangguk. Lalu dia menunjuk sesuatu yang lain. Rani menoleh ke atas rak. Sejenak terdiam. Pelan diambilnya sebuah pigura dan menatap foto di dalamnya.

Rafia mengambil foto dari tangan Rani. Kemudian mencium dan memeluknya.

“Ayah …,” ucap gadis itu pelan.

Mata Rani mulai memanas. Ia menggendong Rafia dan mencium pipinya.

“Yuk, kita main lagi. Ajak Ayah juga.”

Mereka kembali ke kamar Rani.

Bersambung…

Hasna Wilda
Ktbm 140217

Advertisements