Gita segera masuk rumah. Pukul tujuh pagi ia sampai. Mbok Sinem menyambut di ruang depan.

“Sudah datang, Mbok? Gimana …?” Gita menghentikan kalimat melihat isyarat dari Simbok.

“Ssshhhh!” telunjuknya memalangi bibir. Tangan yang satunya membuka kamar tengah dengan perlahan.

Kasur berantakan dengan alat make up. Sisir, jepit, karet rambut warna-warni tersebar dimana-mana. Di tengahnya, seorang perempuan muda tengah memeluk gadis kecil.

Kepala ikal gadis kecil bersandar di lengan kanan tantenya. Sementara telapak tangan Rani terbuka dengan kamera di atasnya. Wajah keduanya tampak cemong di sana-sini terkena riasan yang sembarangan.

Gita dan Mbok Simbok bertukar senyum lalu masuk. Gita memindahkan kamera ke meja kerja. Dia ingin membawa Rafia kembali ke kamar. Tapi tidur yang sangat nyeyak itu begitu sayang untuk diganggu.

Saat melihat pigura foto yang ada di pelukan Rafia, perempuan itu menghela napas. Hanya bisa berkata dalam hati sambil membelai pipi anaknya.

Tiba-tiba Rani bergerak dan membuka mata. Mendapati Gita di dekatnya, ia langsung terbangun. Hati-hati Rafia dipindah ke bantal.

“Gimana pasiennya, Git?”

“Udah melahirkan. Yuk, sarapan dulu,” mereka berbisik-bisik.

Ketiga perempuan dewasa itu beranjak ke ruang makan. Mbok Sinem yang datang sejak subuh sudah menyiapkan sarapan dengan menu tempe goreng, sambal terasi, tumis kangkung dan ikan goreng. Tak lupa kerupuk sebagai pelengkapnya.

Terbit air liur Rani menatap hidangan di atas meja.

“Kamu nggak mau mandi dulu?” cegah Gita melihat Rani langsung duduk di kursi makan.

“Aduh, laper banget. Nanti aja, lah, Git. Setelah makan,” Rani memelas. Bangun dini hari hingga subuh membuatnya kehilangan banyak energi.

Gita tersenyum saja. Mereka bertiga mulai menyendok menu ke dalam piring masing-masing.

“Mbok, nanti mandikan Rafia setelah bangun, ya? Jam delapan saya mau ke Poskesdes. Hari ini ada posyandu,” Gita memberi instruksi.

“Lho, kamu kan baru pulang? Nggak istirahat dulu?” tanya Rani heran.

“Mana sempat. Aku bukan kerja di kota yang waktunya bisa diatur sesuai jam piket. Bahkan sebenarnya tenaga medis itu waktu kerjanya tidak terhingga. Mana ada orang sakit yang bisa nunggu sampai besok. Pasti semua ingin cepat sembuh. Minimal ditangani dan diberi obat secepatnya,” tangannya mulai menyuapkan nasi ke mulut.

Rani termenung mendengar penjelasan Gita. Masa’ iya sampai segitunya?

“Eh, iya. Semalam Rafia ambil foto ayahnya. Sepertinya kangen. Kapan Mas Damar pulang?” sebenarnya bukan hanya Rafia yang kangen, tapi Rani juga.

“Masih sepuluh bulan lagi. Pelayaran kali ini mungkin agak lama. Mas Damar mau cuti panjang saat pulang nanti. Kalau bisa sekalian cuti lebaran biar bisa kumpul rame-rame.”

Percakapan berhenti. Tak ada lagi pertanyaan yang ingin disampaikan. Gita makan dengan cepat kemudian bangkit dari kursinya.

“Saya mau siap-siap, Mbok. Nanti tolong pindahkan kue yang ada dalam plastik hitam. Keluarga Jumi tadi yang ngebungkusin waktu saya mau pulang.”

Simbok mengiyakan.

“Ran, makasih udah jagain Fia semalam,” senyum tipis membayang di wajahnya.

Rani mengangguk sambil terus makan.

Gita berjalan menuju kamar.

Kekakuan diantara mereka masih jelas terasa. Meskipun sering berinteraksi, keduanya masih merasa canggung. Mungkin seiring waktu keadaan akan semakin baik. Tapi keduanya tidak berharap sampai kesana. Begini saja sudah cukup.

Bersambung….

Hasna Wilda
Ktbm, 170217

Advertisements