Saat membaca naskah di layar laptop, Andri tiba-tiba teringat adiknya. Sebentar ia mencari berkeliling dan menemukan ponsel di samping printer.

“Halo?” suara seorang gadis menyahut dari speaker phone.

“Dek, belum tidur?” benar dugaannya adik masih terjaga.

“Siapa ini?” sang gadis melihat layar ponsel. “Oh, Abang! Maaf, adik sibuk ketik ini lah …,” tangan kanannya mengarahkan pointer ke sebuah kata. Kemudian menekan tombol backspace.

Andri menyeruput kopi dingin, “Sudah dibilang jangan begadang. Bandel,” ia menghisap ujung pensil sebagai ganti rokok yang biasa dia hisap. Beberapa waktu ini ia mencoba berhenti dari kebiasaan buruknya.

“Ah, Abang pun sama. Kenapa bisa telepon jam dua pagi ni? Hah … haah?” jarinya menekan tombol Ctrl+S dan berhenti sejenak. Diambilnya ponsel dan mematikan loud speaker. Gadget itu sekarang menempel di kupingnya.

Terdengar tawa dari seberang, “Abang, kan, kerja. Tahulah Adek.”

“Sama saja. Kalau Abang edit tulisan orang-orang, Adek lagi edit tulisan sendiri lah. Masa’ kalah sama Abangnya,” gadis berponi sebatas alis itu berputar-putar di atas kursinya.

“Jadi kamu mau kirim kemana lagi? Belum kapok,” Andri menggoda.

“Ih, Abang ni. Ara tutup teleponnya nanti,” ancamnya.

“Eh, jangan … jangan. Bercanda saja, Adik manis,” ia membayangkan wajah Ara pasti sama macam buah limun. Masam.

“Sebenarnya Ara hampir menyerah, Abang. Ara malu lah, tak ada kerja. Apa kata orang-orang nanti, hiks!”

“Tak apa. Ini pun namanya usaha. Abang yakin tulisan Ara nanti terbit. Abang sudah baca. Tulisan Ara menarik dan punya khas,” hiburnya.

“Iya kah, Bang?” Ara bersemangat.

“Dan lagi, jangan kuatir soal rezeki. Sholat sunah fajar lah. Dua rakaat sebelum sholat subuh. Itu lebih baik dari dunia dan seisinya. Allah janji,” Andri menasehatkan.

“Lebih baik dari dunia menulis beserta seisinya juga, kah, Bang?” Ara tambah semangat.

“Aih, ada pula. Tapi … bolehlah. Bisa dibilang begitu, tapi … hei Ara … Ara … hmmm … ya, sudahlah ….” Andri menutup telepon. Tinggal dengkur Ara yang terdengar paling akhir.

Andri puas tahu adiknya sudah tidur. Kembali ia menghidupkan layar laptop. Melihat pada waktu yang tertera di ujung status bar.

“Masih ada waktu,” ia melipat lengan kemeja. Lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Hasna Wilda
Ktbm, 180217

Advertisements