Minggu pagi, seperti biasa aku berada di depan taman untuk membantu bapak. Sementara bapak berkeliling menjajakan gulali dan harum manis, aku melayani pelanggan disini.

Seorang gadis berkacamata berjalan ke arahku. Dia sering terlihat akhir-akhir ini. Kali ini rambutnya dikuncir dua dan lagi-lagi datang sendirian. Ia berhenti di depan gerobak permen.

“Berapa harga yang kau tukar untuk makanan manis?” tanyanya.

“Murah. Cuma lima ribu rupiah untuk tiga batang permen.”

Gadis yang seusia denganku itu mendecakkan lidah.

“Kamu salah. Dia sangat berharga. Bahkan bisa kutukar dengan nyawaku,” ucapnya entah pada siapa. Sepertinya dia tidak bicara padaku.

Gadis cantik itu pergi setelah membayar sepuluh ribu rupiah. Pramono datang menghampiri sambil memegang balon-balon jualannya.

“Hebat kau. Tumben, gadis itu mau mengobrol denganmu.”

“Memang kenapa?”

“Dia tak pernah menyapa orang lain. Kata teman-teman sekolahnya, sih. Mungkin karena permen ini,” Mono melirik ke arah daganganku.

“Eh, tunggu. Apa kau jual ini padanya?” tangannya menunjuk pada batang-batang gulali yang berwarna coklat susu.

“Iya. Dia beli enam.”

“Gawat! Dia alergi akut sama gula. Pernah dibawa ke rumah sakit  waktu …,”

Tak kuhiraukan lagi kata-kata Mono. Aku berlari menuju arah gadis itu pergi.

Setelah mencari-cari, akhirnya baju jeans overall terlihat. Di kursi taman dia membungkuk.

“Hei, apa kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?” aku khawatir dia akan terkena serangan.

Ia mendongak.

“Kenapa?” katanya. “Aku sedang membetulkan kaus kaki.”

“Permennya? Kembalikan!” ucapku sambil mengulurkan tangan.

Dia menatapku diam.

“Habis?”

Dia menangguk. Aku merasa sangat bersalah dan takut. Apa yang harus kulakukan? Masalahnya aku tak tahu kalau dia … dia ….

Pelan-pelan dia menunjuk ke arah depan. Aku menoleh. Terlihat beberapa bocah sedang bermain. Beberapa dari mereka tengah menjilati gulali yang dibelinya tadi.

Ia memamerkan gigi yang dipasangi behel. Aku merasa lemas namun lega. Akhirnya menghempaskan diri di sebelahnya.

“Mau permen?” katanya sambil mengulurkan segenggam permen dari balik sakunya.

“Mau,” kataku mengambil sebuah.

Dia juga membuka sebuah. Aku merebut dan memakannya.

“Hei,” protesnya.

“Kamu nggak boleh makan permen!”

Dia tertawa, “Tapi itu permen sari buah. Khusus untuk penderita diabetes.”

Benar saja. Ternyata hanya ada sedikit rasa manis dalam permen itu. Lebih banyak rasa asam buah yang segar.

“Maaf …, akan kuganti. Berapa harganya?” malu karena salah duga, aku berniat untuk ganti rugi.

“Apa kamu bercanda? Ini sangat mahal. Bahkan kamu harus menukarnya dengan nyawamu,” ujarnya dengan mimik serius. 

“Bercanda,” tawanya meledak.

“Kamu ini. Aku pikir permen ini tidak ada yang jual, hehe …,” kataku sambil mengamati bungkus permen di tanganku.

“Yap. Edisi khusus,” ia tersenyum sedikit muram. Namun segera ditepis dengan mata jenaka dan sebuah pertanyaan.

“Tadi kamu bilang mau ganti rugi, kan?”

Aku mengangguk. Ia mengeluarkan segenggam penuh permen dari saku yang satunya lagi.

“Kamu harus temani aku menghabiskan permen ini. Minggu depan kamu juga harus menemaniku belanja permen dan membagikannya. Permen itu enaaak … Mmmm ….” dia terlihat cantik tersenyum seperti itu.

“Ngomong-ngomong namamu siapa?”

“Agus,” jawabku tersipu.

“Aku Candy. Rumahmu dimana?”

Aku rasa dia akan terus bertanya. Dan seharian ini akan sangat menyenangkan. Tidak masalah buatku jika dimarahi bapak. Aku sedang makan yang manis-manis ditemani dengan yang manis.

Hasna Wilda
Ktbm, 190217

Advertisements