Heni menjemputku naik sepeda motor ke rumahnya. Kebetulan sekali aku sedang kunjungan dinas kesini. Perjalanan yang kami lakukan berakhir kemarin dan hari ini adalah waktu untuk beristirahat sebelum pulang ke Jakarta.

“Rumahmu asik, seger!” sekeliling mata memandang terhampar sawah yang mulai menguning. Sebuah pondok di tengah, terlihat sangat nyaman dan teduh.

“Kamu mau kesana?” tebaknya mengikuti arah pandanganku.

“He eh.”

Sambil berjalan di pematang sawah, Heni bercerita tentang aktivitasnya sebagai petani di desa ini.

“Sawah ini milik orang tua suamiku. Bapak, almarhum, berpesan agar kami melanjutkan bertani. Beliau tidak ingin sawah ini dijual sampai kapanpun.”

Aku mencoba menerka dari suaranya apakah temanku ini menerima dengan sepenuh hati? Soalnya aku tahu betul potensi dan cita-cita besar yang dimilikinya. Sayang sekali jika dia hanya berakhir di desa seperti ini.

“Hen, maaf aku tanya. Apa kamu setuju dengan semua keputusan ini? Maksudku, pindah dari kota dan meninggalkan semua yang telah kamu bangun disana.”

Sorot matanya meredup sebentar.

“Aku memang harus meninggalkan semua pekerjaan dan karir yang tengah menuju puncak. Namun aku menemukan sesuatu yang lain disini. Ada banyak hal yang tidak mereka punya. Maksudku penduduk desa. Lucunya, aku merasa mendapat ganti atas apa yang telah kutinggalkan.”

Selanjutnya dia menceritakan tentang cita-citanya untuk desa ini. Matanya kembali berbinar.

Heni, kamu tidak berubah. Aku bangga. Mengajarkanku dimanapun tempat berpijak, kita selalu bisa melakukan hal yang kita inginkan. Tak kalah oleh takdir. Karena takdir sebenarnya adalah jalan terbaik yang telah ditetapkan Tuhan. Tinggal kita yang memilih untuk menjalani sepenuh hati atau tidak.

Di atas kursi pesawat kulihat Nganjuk yang permai. Memikirkan temanku berada di sebuah desa terpencil. Jauh dari akses kemanapun. Dikelilingi gunung-gunung, bekerja fisik setiap hari. Namun kenapa justru aku yang merasa terpenjara. Pada keramaian kota, gedung tinggi, kantor yang sesak, dan segala fasilitas kota. Ah, jangan sampai aku tergoda menjadi sepertimu sekarang. Meskipun itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan.

Hasna Wilda
Ktbm, 230217

Advertisements