Tita terburu-buru merapikan riasan. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Mata kuliah statistik dimulai dua puluh menit lagi. Gadis itu memutar kunci kamar kos. Setengah berlari keluar melewati pintu gerbang.

Seorang tukang ojek lewat. Segera ia hentikan untuk membawanya ke kampus FISIP dari universitas kota Tapis Berseri. Tidak jauh sebenarnya. Malahan, ia biasa pergi kuliah berjalan kaki sembari menghirup udara pagi. Namun hari ini ada sesuatu yang membuatnya terlambat.

Sesampai di kampus ia berlari menuju ruang C 3. Beruntung dosen hari ini tidak hadir. Hanya seorang asisten membagikan tugas untuk dikerjakan.

Setelah duduk dan mengatur napas, ia memandang berkeliling kelas. Ijon, Liya dan Boni tidak terlihat. Dara berambut sepunggung itu bertambah kesal. Ia juga curiga karena beberapa hari ini sobat-sobatnya sering menghilang bersama tanpa mengajaknya. Tanpa semangat Tita menatap angka-angka di depannya.

Siangnya di kantin, Boni dengan ceria memasuki ruang makan. Sesaat kemudian dia melihat Tita di meja pojok menyantap makan siang dengan lesu. Lingkar hitam di matanya seperti mengingatkan Boni akan sesuatu.
“Astaga!” Boni menepuk jidat.

“Tita-Tita-Tita,” cowok berambut kribo itu buru-buru menghampiri. “Jahat, deh. Makan siang nggak ngajak Boni,” lanjutnya mencoba kelihatan imut.

“Bukannya kalian yang nggak ngajak aku?” balas Tita datar. Kepalanya sedikit pusing akibat bergadang semalaman. Dan itu karena mereka bertiga.

“Iya, aku tahu kamu marah. Tapi ada alasannya kok. Ayo, ikut aku!” Boni menarik lengan Tita menuju gedung Jurusan Komunikasi.

Pada sebuah pintu ruang studio, mereka berhenti dan masuk. Tampak dua wajah lain terkejut, Ijon dan Liya.

“Aaawww …,” Liya berteriak histeris. Sementara Ijon yang cepat menguasai diri segera mengerti keadaan.

“Selamat ulang tahun … selamat ulang tahun Tita … selamat ulang tahuuuun!” Ijon bernyanyi sambil memberi kode pada kedua teman yang lain agar mengikuti.

Sebelah dinding ruangan itu berhias asesoris ulang tahun. Ada balon, bendera warna-warni dan tulisan ‘Selamat Ulang Tahun Ke-15’. Tidakkah itu terlalu muda baginya?

Di meja terdapat sebuah kue ulang tahun cantik red velvet yang pastinya sangat enak. Sebuah kartu ucapan terbuka di atasnya.

“Maaf, ya. Kita sering menghilang dari kamu beberapa hari ini,” dengan cepat Liya mencabut kartu kemudian menghadiahi cipika-cipiki buat Tita.

“Iya, kita serius banget, lho, nyiapin ini buat kamu,” kata Boni.

“Waah, thanks a lot guys. Pantesan tadi malam satupun kalian nggak ada ngasih selamat buatku,” Tita terharu menerima sepotong kue dari Ijon.

Keempat sahabat itu kembali tertawa dan bercanda dengan hangat. Beberapa foto mereka ambil berempat. Berpose dengan kue dan gaya yang aneh-aneh.

Selagi Boni sibuk menceritakan kejadian-kejadian lucu dengan gaya kocak, Tita melihat sekeliling ruangan. Lima belas tahun? Angka itu menggelitik rasa ingin tahunya. Lalu sepatu kets nya menginjak sesuatu.

“Kartu ucapan?” Tita membukanya penuh rasa ingin tahu.

‘Selamat Ulang Tahun Ke-15 Rumahweb Indonesia’

Tita menahan senyum dan berbalik.

“Guys, bisa jelasin apa ini?” serunya pura-pura marah.

Ketiga temannya menoleh dan melihat kartu di tangan Tita. Mendadak wajah mereka berubah pasi.

“Ta, anu …,” suara Liya tercekat di tenggorokan. Hening yang tidak mengenakkan memenuhi udara sekitar.

“Hm … Bahahaha,” Tita tak sanggup menahan lebih lama.

Ijon, Liya dan Boni bernapas lega. Suasana kembali cair. Kini Tita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pesta ini pun juga bukan miliknya. Tapi ia yakin mereka tulus mendoakan dia. Lelucon tak sengaja ini adalah hadiah terbaik. Tita tidak marah, hanya saja ia memikirkan kompensasi yang harus mereka berikan padanya. Lihat saja nanti!

#rumahwebfifteen

image

Advertisements