Saat memutuskan dan memulai dengan sungguh untuk menulis di blog, hambatan yang sangat nyata menyerang titik-titik kritis perwujudan cita-cita saya. Dipindahkan ke tempat yang jauh dari kota. Dimana sinyal sama sulitnya dengan mendapat angkutan keluar dari lokasi tempat tinggal. Tapi masih ada cara, yaitu berganti kartu dengan provider lain yang jangkauannya lebih luas hingga ke pelosok desa.

Lagi, setelah itu waktu menjadi barang yang langka. Tidak mahal, namun sulit. Kombinasi yang cocok untuk membuat mental jadi lemah dan menyerah. Apalagi tantangan dari seorang senior untuk membuat tiga postingan dalam satu hari. Yellow???!!!

Setelah saya coba dan saya laporkan hasilnya, diberikanlah satu jawaban atas usaha saya ngeblog. Yaitu bahwa blog saya ‘tidak menjual’. Sorry to say. Berat untuk diterima tapi itu benar. Apakah selama ini saya melakukan hal yang sia-sia?

Ini melelahkan. Sungguh! Semua marka yang saya temui di jalan seperti menyuruh saya untuk berbalik dan pulang karena sulitnya medan. Namun tak ada satu pun tanda ‘forbidden’, yang artinya masih ada cara untuk melaluinya.

Lalu, sebuah tugas ‘mengharuskan’ saya untuk melakukan hal yang sulit diterima. Menghabiskan seluruh waktu online saya untuk melakukannya. Saya tidak bisa menyisihkan waktu untuk menulis di blog. Ini seperti mengosongkan isi kantong dari receh terakhir yang saya punya.

Saya tahu ini tidak sia-sia. Ini belajar. Bahkan dari hal yang tidak kita niatkan untuk belajar tetap bisa kita ambil hikmahnya.

Kemudian, bagaimana mungkin saya bisa menolak nasehat dari orang yang berumur 70-an tahun? Apa karena ia sudah lebih banyak makan asam garam kehidupan dari saya? Bukan! Karena beliau adalah orang tua saya πŸ™‚

Ayah menganjurkan saya untuk bersabar dan bersyukur. Suatu hari nanti pasti cita-cita akan tercapai. Bahkan beliau menyampaikan dalam sebuah hadist kudsi disebutkan bahwa orang yang tidak bisa bersabar dalam ujian dan tidak bisa bersyukur atas pemberian Allah, diancam agar mencari Tuhan yang lain (perlu bimbingan ahli bagi yang belum mengerti maksud hadist ini. Silakan mencari pada tempat yang benar πŸ™‚ )

Sesungguhnya tidak ada nasehat yang baru. Hanya manusia sering lupa, hingga harus diingatkan berkali-kali dalam situasi dan masalah yang berbeda dari waktu ke waktu.

Jadi, saya masih berada di atas tali di ketinggian. Dengan sebuah tongkat dan beberapa beban. Masih mencari cara untuk menyeimbangkan dan berjalan hingga ke ujung satunya lagi. Jika saya bercita-cita untuk terjun maka semua akan lebih mudah dan cepat. Tapi cita-cita saya ada di seberang sana. Lainnya, I don’t care. I have to do not care.

Tulisan ini akan saya simpan. Entah berapa lama impian saya akan terwujud. Atau jalanan yang sedemikian rumit membuat saya lupa telah berada dimana. Namun saat saya mulai berpikir tentang ini lagi, mungkin, mungkin saja saya sudah melampaui target yang telah ditetapkan. Atau ternyata target saya tidak tercapai, tapi saya telah ‘berjalan’.

Teruntuk teman-temanku pejuang yang budiman, tulisan ini sebagai penyadar. Bukan kamu seorang diri yang berjuang. Masing-masing kita punya titian, tongkat dan beban tersendiri. Jika kamu merasa yang paling susah, itu salah. Kamu punya banyak teman yang susah payah mewujudkan mimpi. Nah, sekarang adalah saat untuk melakukan, bukan memikirkan.

Sampai ketemu di seberang sana πŸ™‚

Hasna Wilda
Ktbm, 060317

Advertisements