Sudah seminggu Rani berada di rumah Gita. Sebenarnya itu rumah nenek Rani, tapi sekarang Gita yang tinggal di sana.

Kakinya berayun di kolong kursi teras. Pukul tujuh pagi, hanya beberapa orang yang terlihat. Anak-anak sekolah seharusnya sudah sampai. Para petani mulai ke ladang dan kebun sejak subuh. Mereka akan kembali sekitar satu atau dua jam lagi, sebelum matahari meninggi. Kemudian kembali mengambil hasil sadapan karet sebelum tengah hari.

Aktivitas desa akan terlihat kembali menjelang sore. Saat itu orang-orang sudah kembali ke rumah. Maka biasanya pesta atau hajatan lebih ramai dari menjelang hingga hari malam. Begitulah hasil pengamatan Rani ditambah hasil wawancaranya pada Mbok Sinem dan beberapa orang tetangga.

“Kamu nggak jalan-jalan, Ran?” Gita tengah bermain dengan Rafia. Hari ini kelihatannya agak santai.

“Jalan kemana?” Rani balas bertanya.

“Keliling desa, lah. Banyak objek menarik yang tidak bisa kau dapat di kota,” ia menggelitik perut anaknya.

Rani sebenarnya bukan tak tertarik. Ia berharap bisa pergi menangkap beberapa foto dengan kameranya. Gita memang benar, pemandangan desa yang alami dan bersahaja di sini benar-benar cantik. Masalahnya hanya satu, ia merasa segan.

“Mbok, nggak ada kue seperti kemarin, ya?” tanya Rani pada Mbok Sinem.

“Yang mana, Mbak?”

“Itu yang dibungkus daun pisang, Mbok,” jelasnya.

“Oh, lemet? Sudah habis. Kan Mbak Rani yang makan semuanya,” wanita tua itu tersenyum menggoda.

Terdengar kekeh tertahan dari Gita. Ia heran dengan gadis kota seperti Rani. Sebelumnya ia mencibir kue-kue tradisional itu. Tapi karena tak ada makanan lain, mau tak mau ia memakannya juga. Dan kini ia ketagihan.

Rani mengerti dirinya tengah ditertawakan buru-buru beranjak dari kursi depan.

“Aku mau ke warung Yuk Nanik dulu,” katanya.

“Injih, Mbak,” jawab Mbok Sinem.

Gadis itu berjalan menyusuri aspal yang lumayan bagus untuk ukuran desa pedalaman. Terkesiap sebentar, lalu melanjutkan perjalanan saat menyadari itu hanya bangkai ular kecil yang terlindas kendaraan. Dua meter kemudian ia bertemu ulat bulu hitam yang berjalan cepat ke arah yang berlawanan dengannya. Tampak ia telah terbiasa dengan fauna yang ada di desa ini.

Setelah empat rumah dilewati, sampailah ia ke warung Yuk Nanik. Penduduk desa ini memang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Ada Jawa, Sunda, Palembang, Padang dan Lampung sebagai suku aslinya.

“Eh, Mbak Rani. Tumben kemari. Mau beli apa?” sang pemilik warung menyapa ramah.

Di sana ada beberapa orang yang juga sedang berbelanja.

“Mana Rafia, Nduk?” seorang Mbah bertanya menggunakan bahasa Indonesia, tahu bahwa Rani tidak mengerti bahasa daerah.

“Ada di rumah. Lagi main sama Gita, Mbah,” jawabnya berusaha sesopan mungkin.

Otomatis kepala-kepala di sana berpaling ke arahnya. Mbah tersebut bahkan hingga ternganga. Rani keheranan sendiri.

‘Apa aku salah bicara?’ ucapnya dalam hati.

“Kamu, kan, lebih muda daripada Bu Gita. Harusnya kamu panggil dia ‘Mbak’,” ucap Mbah dengan wajah sedikit tersinggung.

Bagi penduduk desa Gita bukan hanya seorang bidan atau tenaga medis. Gita adalah ‘Bu Gita’ mereka yang dicintai dan dihormati mereka semua.

“Oh … eh …, iya maksud saya Mbak Gita, Mbah,” Rani salah tingkah.

Pertama kali ia menyadari bahwa ini lingkungan yang berbeda dari tempat ia berasal. Begitu pula dengan adat istiadatnya. Rani segera pulang setelah berpamitan dan membayar sekantong keripik singkong pedas.

Bersambung…

Advertisements