Rani mengunyah keripik pelan-pelan. Udara sejuk di bawah pohon rambutan samping rumah membawa memori beberapa tahun lalu. Saat itu Nenek tengah sakit keras. Awalnya hanya penyakit yang biasa menyerang orang-orang lanjut usia. Sakit yang datang silih berganti di berbagai anggota tubuh. Rematik, pegal-pegal, meriang. Sesungguhnya bukan penyakit berat, namun karena kekuatan tubuh yang terus berkurang menyebabkan aktivitas nenek terbatas.

Suatu ketika keadaan nenek menurun drastis. Selama beberapa bulan Nenek hanya berbaring di tempat tidur. Rani dan keluarganya datang ke desa. Damar sudah lebih dulu sampai dan menemani Nenek. Mereka berembug dan memutuskan meminta bidan desa untuk merawat Nenek di rumah. Keluarga sangat berharap bidan desa tersebut mau memenuhi permintaan mereka. Karena Ayah tak bisa meninggalkan pekerjaan di kota untuk menemani Nenek.

Paman Basri dan istrinya yang tinggal dekat rumah Nenek menetap di sana sementara waktu. Nenek selama ini tinggal sendirian. Sejak Kakek tiada, Ayah dan Ibu mengajak Nenek tinggal bersama mereka. Namun Nenek bersikeras untuk tetap tinggal.

Damar rela berhenti dari pekerjaannya agar dapat ikut merawat Nenek.

“Damar hanya berhenti sementara, Bu. Hingga kondisi Nenek sudah benar-benar pulih dan siap di bawa ke kota,” begitu alasannya pada Ibu.

Setelah dua bulan kondisi Nenek berangsur membaik. Namun seminggu setelah beliau bisa kembali berjalan, Nenek meninggal dunia selepas sholat subuh.

Sebulan kemudian Damar mengatakan niatnya melamar Gita, bidan yang merawat Nenek.

“Mas, kenapa harus sama dia, sih?” Rani langsung menyatakan ketidaksetujuaannya saat itu juga.

“Kenapa harus mencari selain dia?” Damar membalas sambil tersenyum.

Di mata Damar terlihat kesungguhan yang tak tergoyahkan. Meski terkejut, Ayah dan Ibu menyatakan setuju dan merasa senang. Sedang Rani pergi masuk kamar. Walaupun tidak setuju, pendapatnya tentu tidak masuk hitungan. Adalah hak kakaknya untuk memutuskan dengan siapa dia akan menikah.

Pintu diketuk perlahan.

“Masuk,” jawab Rani pelan.

Damar masuk sambil memasang senyum paling tampan. Rani tak bisa menahan untuk lama-lama berdiam diri jika sudah begitu. Ia dan kakaknya hanya dua bersaudara. Karena itu mereka sangat dekat dan akrab.

“Kalau Mas kesini untuk membahas hal yang tadi, lupain aja. Aku nggak berhak ikut campur, kan?” rajuknya.

“Jangan gitu dong, Ran. Tentu saja pendapat kamu yang paling Mas pedulikan,” rayu Damar.

“Tapi, tetap aja Mas akan menikah dengan Gita, kan?”

Damar mengangguk.

“Kenapa, sih, kamu nggak suka sama dia? Coba katakan satu saja alasanmu menolak dia.”

Rani tak bisa menjawab. Sesungguhnya dia tidak tahu apapun tentang Gita. Tidak kebaikan atau keburukannya. Justru Damarlah yang lebih tahu saat mereka merawat Nenek bersama-sama.

“Mas bukan ingin membalas budi. Jasa Gita merawat Nenek tidak akan bisa kita balas. Namun saat merawat Nenek, Mas jadi bisa melihat karakter Gita yang asli. Dan menurut Mas, nggak ada perempuan lain yang lebih cocok sebagai pendamping kecuali dia. Gita sudah pas.”

Rani menunduk. Dia percaya sepenuhnya akan penilaian Damar. Hanya satu hal yang ada dalam benak gadis itu. Ia gagal menjodohkan Damar dengan Lyla, sahabatnya. Dia harus bilang apa? Selama ini dialah yang terus menerus memanas-manasi sehingga Lyla akhirnya mau dikenalkan pada Damar. Terbayang betapa Lyla akan marah nanti. Ah, kehadiran Gita membuat rencananya kacau.

“Rani, ngapain duduk di situ? Udah mau hujan, lho!”

Suara Gita membangunkannya dari lamunan.

“Eh …, iya Git. Eh, Mbak Gita,” sahutnya kikuk.

‘Mbak? Apa aku nggak salah dengar?’ batin Gita.

Bersambung…

Hasna Wilda
Ktbm, 110416

Advertisements