Gita mengernyitkan dahi. Sejak kapan dia mau panggil ‘Mbak’? Memang usia mereka terpaut beberapa tahun. Tapi ini tidak seperti Rani yang biasanya.

“Kenapa?” tanya Rani canggung. “Aku nggak boleh panggil kamu ‘Mbak’?”

“Kamu nggak perlu melakukan itu untuk menarik simpatiku,” ujar Gita saat mereka sudah pindah ke ruang tamu. Hujan turun deras sekali sore itu.

“Ya, ampun. Ngapain juga, kali? Hanya saja … orang-orang di sini punya nilai kesopanan pada orang yang lebih tua. Tadi aku kena tegur di warung. Kupikir sebaiknya mulai memanggilmu dengan sebutan ‘Mbak’,” Rani menatap kuku-kuku jarinya seolah ada hal yang menarik di sana.

Gita menghela napas.

“Terus, kalau kamu berubah aku juga harus bilang ‘gue-lo’, gitu?” tanya Gita gemas.

“Mbak Gita juga dulu orang kota, kan?” ujar Rani.

“Aduuh, jangan memanggilku begitu,” Gita merasa geli mendengarnya. “Iya, benar aku orang kota. Lahir dan besar di Jakarta. Tapi kita harus menyesuaikan diri dengan tempat kita tinggal. Sebagai bidan di sini, aku sudah dianggap tokoh masyarakat. Wajar jika mereka  menghormatiku sama seperti perangkat desa yang lain. Tapi akan terasa canggung jika kamu yang memanggilku begitu,” Gita merasa jarak antara mereka akan semakin jauh.

“Atau begini saja, kamu boleh memanggilku dengan sebutan lain saat ada pasien atau orang lain. ‘Ibunya Rafia’, ‘Bu Bidan’, … kurasa itu cukup mewakili dan tetap sopan. Tapi jangan panggil aku ‘Mbak’ saat di rumah. Sejak dulu kamu selalu memanggilku ‘Gita’ saja, dan akan selalu begitu.

Untuk pertama kalinya Rani menatap Gita sungguh-sungguh. Dia mencari maksud dibalik kata-kata iparnya itu. Tak ada kebencian. Hanya ketulusan.

Rani jadi menyesal. Selama ini dialah yang menjaga jarak dari Gita. Sebenarnya Gita lumayan. Mungkin mulai saat ini dia bisa menerima iparnya itu pelan-pelan. Meski rasa kecewa belum sepenuhnya hilang. Rani balas tersenyum.

“Oke.”

Bersambung …

Hasna Wilda
Ktbm, 130417

Advertisements