“Ran, gimana sih, Lo? Kenapa hal besar kayak gini bisa kejadian, coba?” Menejer menghempas sebuah amplop ke atas meja.

Rani menjangkau dan membukanya. Tampak selembar foto yang tak asing baginya. Ini seperti gambar yang dia ambil seminggu lalu. Kemudian Rani membaca surat yang terlampir bersamanya.

“Tapi … tapi nggak mungkin. Ini asli saya ambil sendiri. Pasti ada kesalahan,” Rani hampir histeris. Untung saja ia bisa mengendalikan diri dan nada suaranya.

“Ran, sejak gue di sini, udah ketiga kalinya Lu buat kesalahan. Dan ini yang paling fatal. Sorry, gue nggak bisa ngebantu Lu lagi. Sampai masalah ini selesai, Lu dibebastugaskan.”

Rani menatap mata biru sang menejer tak percaya.

“Ehm, …tapi masih ada yang bisa kita lakuin buat Rani, kan, Nat?” Archie, senior Rani di Magz Magazine angkat bicara. Selama ini Rani menjadi asisten fotografer di bagian iklan majalah fashion. Beberapa bulan terakhir dia bergabung dalam tim Archie sebagai salah satu calon fotografer utama. Dan ini adalah proyek pertamanya.

“Ya, tentu aja kita akan lakukan penyelidikan. Tapi gue nggak mau ambil resiko. Jika pelapor menuntut dan membawa kasus ini ke meja hijau, kita bisa dapet masalah serius. Untuk itu gue mohon Lu mundur sementara, Ran. Demi majalah kita,” mata tajam itu kembali nenatap ke arah gadis berkaus putih dengan luaran kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.

Tak ada hal lain yang bisa Rani lakukan. Plagiasi adalah hal yang tak pernah ia bayangkan untuk dilakukan. Tapi foto itu begitu mirip. Baik dari gaya dan model baju yang dipakai. Kini sang pemilik desain, Anina, menuduh mereka memakai model desain bajunya tanpa izin.

“Chi, gimana sekarang? Ya, ampun … gue yakin banget. Gue nggak salah, Chi. Semua yang gue kerjain udah disiapin sama tim peralatan dan konsep. Bahkan Lu juga ada di sana, kan? Kita kerjain semua bareng-bareng dengan tim. You’ve got to believe me,” ujar Rani saat mereka keluar dari ruang menejer. Meskipun mantan, Rani tetap menjalin hubungan baik dengan Archie. Dari teman kembali jadi teman.

“I believe You, a hundred percent. Gue pikir ini pasti kerjaan orang dalem yang mau nyabotase majalah kita. Kita bakal cari siapa pelakunya. Lu tenang aja,” pria berdarah campuran itu menunduk untuk menyejajarkan matanya dengan Rani. Sebelah tangannya diletakkan pundak gadis yang bersandar di dinding koridor kantor, memberi dukungan.

Dara itu tersenyum lemah. Teringat tatapan wanita di dalam tadi yang seolah menuduhkan semua kesalahan ini di pundak Rani. Mereka mungkin belum lama bekerja sama, tapi jauh sebelum ini mereka sudah saling mengenal. Bahkan sangat dekat.

Bersambung…

Hasna Wilda
Ktbm, 170417

Advertisements